Minggu, 18 Desember 2011 - 10:25:22 WIB
Sang Koreografer Berwajah Sunyi
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Psikologi - Dibaca: 35 kali

Herman Susilo *

Pernahkah Anda melihat remaja berwajah flat dan terkesan enggan berinteraksi dalam kelas besar? Saya sering menemukan hal seperti itu dalam sesi-sesi training yang kami selenggarakan. Sebaiknya Anda jangan mudah putus asa dengan sikapnya. Sebab ada hal menarik yang mungkin saja Anda temukan setelah berinteraksi dengan mereka. Seperti yang  ingin saya share kepada Anda berikut ini.

Remaja tanggung berbadan tinggi itu memang tampil beda. Ia tak terlihat aktif layaknya teman-teman seusainya. Sepanjang pelatihan wajahnya tak menunjukkan keceriaan. Dia hanya tertunduk lesu tak berdaya. Ketika diminta bergerak pun ia beranjak malas bak orang terbangun  dari tidur. Wajahnya sunyi!

Beberapa simulasi yang kami mainkan hanya membuatnya tersenyum kecil. Saat yang lain bergerak ceria mengikuti irama, ia hanya bergeser lambat bak koala menanti angin. Sejenak saya berpikir, gerangan apa yang ada dalam benaknya. Hmm... Puluhan tahun saya melatih remaja selalu saja ada tantangan seperti ini.

Tibalah permainan kelompok. Kami meminta seluruh kelompok memberi nama dan alasan memilih nama tersebut. Mereka pun diwajibkan membuat yel yel untuk dilombakan antar kelompok. “Nama kelompok kami adalah Manusia Ikan!” cetus Anok, remaja subur sang ketua kelompok. Dan di kelompok itulah Si Wajah Sunyi berada.

Tiba-tiba saya terpana. Ada pemandangan luar biasa menarik perhatian. Saat kelompok itu berdiskusi membuat yel yel. Terlihat Si Wajah Sunyi begitu aktif mengatur, mengelola, dan memperagakan contoh-contoh gerakan yel kelompoknya. Tanpa berpikir panjang dan tiada terputus gerakan-gerakan itu mengalir bagai air sungai yang deras.

“Jadi nanti kalian gerakkan tangannya seperti ini!” seru Si Wajah Sunyi memperagakan gerakan berenang dan menendang. Aha! Ternyata inilah salah satu talentanya. Ya, dialah sang koreografer! 

Saya tertarik dengan gayanya yang lugas, peragaannya yang luwes, dan tatapan wajahnya yang menggelora. Saat mengatur teman sekelompoknya wajah remaja itu tak lagi sunyi. Mimiknya berubah drastis mengikuti gerakan dan irama lagu yang ia lantunkan. Teman-teman lain pun tampak terbius mengikutinya sambil tertawa gembira. Ketika mereka memperagakannya di depan kelas, para peserta, trainer, dan panitia lainnya terbahak-bahak dengan tampilan mereka. Tepuk tangan bergemuruh memenuhi langit-langit ruangan berukuran 8 X 10 meter itu.

Menggali Talenta Terpendam

Orang tua yang budiman, penampilan memang bukanlah segalanya untuk menilai seseorang. Adakalanya ia menipu dan menyembunyikan sesuatu. Namun demikian penampilan menunjukkan keadaan hati dan perasaan terdalam. Kasus Si Wajah Sunyi yang saya temukan dalam training itu membuktikannya.

Lelaki tanggung usia belasan tahun itu terkesan menyembunyikan sesuatu. Awalnya saya tidak tahu apa yang menarik dari remaja ini. Sikapnya yang cenderung apatis dan acuh menggelitik kami untuk mengungkit talentanya yang tersembunyi. Akhirnya muncul lah talenta itu. Saya senang luar biasa melihat perubahan sikapnya yang drastis. 

Saya mencatat setidaknya ada 2 talenta tersembunyi yang terpendam dalam tubuh remaja itu dan masih melekat di benak saya.

Pertama, informal leader. Ternyata Si Wajah Sunyi itu memiliki talenta informal leader atau pemimpin informal. Dan pemimpin informal kadang lebih berpengaruh daripada pemimpin yang ditugaskan. Beberapa kali ia mampu mengajak teman-temannya mengikuti gerakan yang ia peragakan. Membagi tiap gerakan kepada temannya yang lain. Ia berhasil mempraktekkan model collegial leadership di hadapan kelompoknya. Kepemimpinan dengan cara berbagi peran. 

Model informal leader ini akan sering kita jumpai pada remaja yang lebih senang berkumpul di kelompok-kelompok kecil. Mereka biasanya tak suka tampil menonjol di antara teman yang lain saat di kelas besar. Mereka tak suka jika dalam forum besar orang-orang melihat mereka. Apalagi jika ada orang tua yang menyaksikannya, they are totally not comfort. Namun saat berada dalam kelompok kecil, remaja model ini akan berubah menjadi orang yang berpengaruh. 

Kedua, talenta seni. Seni sangat berkaitan erat dengan imajinasi yang didominasi otak kanan. Dan daya imajinasi anak ini patut diacungi jempol. Imajinasinya yang bebas membuat ia begitu leluasa mengatur teman sebayanya untuk sekadar tertawa bersama mengikuti arahannya.  Saat seperti itu dia begitu menghayati perannya. Ia bagai koreografer profesional yang menghanyutkan rekan-rekannya. Hebat!

Dua catatan tersebut saya temukan dalam setengah hari berinteraksi dengan anak remaja itu. Saya amat meyakini masih ada talenta lain yang belum tergali. Dan sungguh indah jika semua talenta itu terungkap dan terekspresikan dalam gerak langkah mereka. Tentu menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua dan para pembina remaja untuk mengungkitnya. Bravo Remaja Bertalenta! 

* Direktur Eksekutif MAIN Institute
   www.maininstitute.org
   A Tribute to Remaja Permata Arcadia, Cimanggis, Depok.
   (Remaja hebat didukung oleh ortu dan warga yang kompak. Wow Indahnya...)



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)